http://popcash.net/activate/24c3a3fd64250eda4f53b641475afb03

Wednesday, February 10, 2016

Sejarah Indonesia : Masa Paleolithikum

Learning history for all people
A.     Masa Paleolithikum
Manusia purba memiliki jejak sejarah.  Jejak sejarah mereka berbentuk benda-benda hasil kebudayaan mereka.  Misalnya alat berburu yang mereka pakai, alat menangkap ikan, alat pertanian, benda perhiasan, alat pertukangan, benda-benda yang menjadi alat dan tempat pemujaan, bekas tempat tinggal, tulang-tulang manusia purba, tulang binatang yang pernah makan.
Dari berbagai benda peninggalan mereka dapat direkonstruksi pola kehidupan mereka, kebiasaan-kebiasaan bahkan nilai dan norma yang mereka gunakan.
1.    Kebudayaan Pacitan
Kebudayaan Pacitan berbentuk alat-alat dari batu yang disebut kapak berimbas ( chopper) sering disebut kapak gengam; juga ditemukan alat serpih ( flakes ) bentuknya kecil tajam seperti pisau, digunakan untuk mengiris daging, menguliti binatang buruan, memotong umbi-umbian,Kebudayaan Pacitan ditemukan dilapisan preistocen tengah ( lapisan Trinil ) ; pendukung kebudayaan ini manusia purba jenis Pithecantropus Erectus;  Peneliti kebudayaan Pacitan adalah Von Koenigswald pada tahun 1935.
Benda-benda seperti kapak berimbas yang mereka tinggalkan banyak ditemukan di Gombong, Jampang kulon ( Sukabumi ) di Cabenge ( Sulawesi )digua-gua purba, dikedalaman tertentu dan pengungkapannya membutuh bantuan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu antropologi, geologi, kimia dll
2.    Kebudayaan Ngandong.
Kebudayaan Ngandong berbentuk alat-alat dari tulang. Ditemukan alat-alat tulang yang runcing seperti belati diambil dari tanduk kijang, kerbau  dipakai sebagai mata tombak atau pisau, digunakan untuk mengorek ubi.  Duri ikan pari juga digunakan sebagai ujung mata tombak dalam berburu binatang.
Dari  direkonstruksi penemuan alat dari batu yang telah runcing, tanduk kijang atau menjangan yang runcing menunjukkan bahwa pola hidup manusia purba paling awal hidup berkelompok, mereka nomaden, pola hidup manusia yang lelakinya berburu dan kaum wanitanya meramu.
Ditemukannya fosil-fosil mereka yang banyak ditemukan diarea dekat sungai, Tinggal didekat sungai atau danau, menunjukkan bahwa mereka berada didaerah yang subur dan banyak makanan, daerah yang juga menjadi area binatang yang mereka buru mencari makanan. Sehingga, mereka dengan mudah mencari binatang buruan.
Kebudayaan Ngandong didukung oleh manusia purba jenis Homo Soloensis dan Homo Wajakensis, banyak ditemukan didaerah Sidorejo, Ngawi Jawa Timur.  Diteliti oleh Von Koenigswald tahun 1941.


Friday, February 5, 2016

Perbudakan dibenua Amerika

Learning history for all people
Perbudakan di benua Amerika
Penemuan benua Amerika menjadi jalan keluar memecahkan konflik keagamaan antara penganut Katolik dengan Protestan.  Para minoritas tertindas berbondong-bondong kebenua Amerika dengan harapan hidup baru yang makmur dan lepas dari tekanan karena pandangan keagamaan yang berbeda serta bebas dari dari feodalisme yang membekukan akal kemanusiaan.
Namun, sejak awal migrasi penduduk Eropa menjadi malapetaka bagi penduduk asli Amerika, suku Indian dari Amerika bagian utara hingga Amerika bagian selatan.  Bahkan, penduduk benua Afrika juga ikut kena getahnya, mereka dirampas kehidupannya, dari keluarganya sejak ditanah kelahirannya, tanah Afrika.  Mereka dibawa dengan kapal-kapal kumuh, dirantai seperti hewan, diperlakukan tidak manusiawi lalu dijual kepara tuan tanah yang juga sangat bengis.
Bila para penduduk asli banyak terbunuh karena disingkirkan  oleh nafsu serakah para pendatang Eropa yang haus kekayaan emas. Untuk mengganti para budak dari penduduk asli,  para kolonialis berupaya mengeksploitasi kekayaan alam Amerika.  Mereka membuka pertambangan , membuka perkebunan gula.  Mereka membutuhkan tenaga kerja murah meriah, para budak.
Kebutuhan terhadap tenaga budak makin bertambah seiring bertambah luasnya perkebunan dan pertambangan yang dikelola para kolonialis Eropa. Banyak para budak ini yang mati, bukan karena penyakit, tetapi kelelahan karena eksploitasi tenaga mereka yang berlebih ditambah siksaan berat bila mereka melawan karena membela hak-hak mereka.
Sebaliknya, para penduduk asli Indian, mereka harus menghadapi kenyataan disingkirkan dari tanah-tanah mereka.  Mereka didesak untuk menjauh dan masuk kehutan atau ketanah gersang.  Mereka harus menghadapi hidup yang berat.  Mereka kehilangan kebudayaan mereka.  Mereka diputus dari kekayaan alam berfikir mereka.  Walau sebagian masih bisa bertahan dan hidup berdampingan, tetapi mereka tanpa sadar direkayasa uuntuk meninggalkan budaya mereka dan hidup menurut gaya hidup kaum kolonialis.

Gillian Denton.  Sejarah Dunia. Jakarta : Erlangga, 2008