Agoda.com

Thursday, January 12, 2017

Strategi Indonesia Melawan Agresi Militer Belanda

Learning Indonesian history for all people
Pasca menyerahnya Jepang kepada pihak sekutu, Belanda ingin menjajah kembali Indonesia, menjajah 100 % wilayah yang pernah dikuasainya.  Beberapa langkah strategis dilakukan Belanda untuk  mencapai tujuan politiknya dan menggagalkan berdirinya Negara Republik Indonesia yang dinyatakan pada tanggal 17 agustus 1945 dengan wilayah semua kepulauan yang pernah dijajah Belanda sejak 1602 hingga terusir dari bumi nusantara.
Strategi pemerintah colonial belanda diantaranya :
1.      Mengirim pasukan NICA melalui pasukan AFNEI yang berasal dari Inggris yang ditugaskan sekutu untuk membebaskan kaum interniran (tawanan Eropa) dan memulangkan tentara Jepang kenegaranya.
2.      Mendirikan pemerintahan di Indonesia dengan berupaya merekrut kaum feudal Indonesia yang telah sejak lama setia pada pemerintahan colonial Belanda serta membangun aliansi strategis dengan PKI untuk menyingkirkan kekuatan politik kaum republic Indonesia yang mengusung Negara Kesatuan Republik Indonesia .
3.      Merebut kantor – kantor pemerintahan, pasar, pusat-pusat industry dan ekonomi , perkebunan, serta berbagai bangunan strategis melalui pasukan NICA dengan para milisi pribumi serta milisi Poh An Ti dari kalangan masyarakat China.
4.      Mengendalikan keuangan diwilayah Indonesia melalui Bank sentralnya yaitu De Javasche Bank.  Dengan pengaturan keuangan diharapkan para pendukung Negara Republik Indonesia mengalami kesulitan ekonomi.
5.      Menghancurkan kekuatan militer rakyat yaitu lascar-laskar yang dibentuk oleh partai-partai politik dan pasukan resmi pemerintah Indonesia yaitu TKR yang kemudian berganti nama menjadi TRI.
6.      Melakukan diplomasi diberbagai forum internasional dengan prinsip wilayah Indonesia adalah wilayah Belanda yang ada di Timur jauh, masalah Indonesia  adalah masalah dalam negeri Belanda.  Diplomasi ini dilakukan untuk membendung gencarnya diplomasi Indonesia dinegara-negara Arab Islam dan Negara-negara Asia Selatan.
7.      Menggunakan kekuatan diplomasi dan kekuatan militernya yang modern untuk menghabisi eksistensi perlawanan pemerintah dan rakyat Indonesia dan menghapuskan pemerintahan Republik Indonesia dari wilayah nusantara yaitu melalui pembentukan Uni Indonesia Belanda, Republik Indonesia Serikat dengan Ratu Belanda sebagai kepala Negaranya. Menangkap dan memenjarakan para tokoh kemerdekaan Indonesia.
8.      Memecah belah bangsa Indonesia dengan membentuk Negara-negara boneka diberbagai wilayah Indonesia seperti pembentukan Negara boneka Negara Sumatera, Negara Sumatera Timur, Negara Borneo, Negara Pasundan , Negara Jawa Tengah, Negara Jawa Timur dan Negara Indonesia Timur, dibarengi dengan pembentukan tentara milisi pribumi yang dibayar oleh pemerintah colonial Belanda.  Di area perkebunan membentuk pasukan Poh an ti, yaitu milisi yang terdiri dari orang-orang tionghoa.
9.      Mendorong PKI melakukan kekacauan dan pemberontakan didalam wilayah Republik Indonesia dan memberi perlindungan politik  terhadap para tokohnya . Sehingga terjadilah Pemberontakan PKI di Madiun pada bulan September 1948, disaat semua kekuatan Republik Indonesia ditempatkan digaris batas Van Mook untuk menghadang agresi militer Belanda.

Dengan strategi Belanda yang  demikian maka bangsa Indonesia menempuh perlawanan dengan cara menyiapkan pemerintahan yang kuat.  Pemerintahan Negara Republik Indonesia dibentuk melalui Sidang-sidang PPKI tanggal 18, 19 ,22  agustus 1945, seperti pengangkatan Ir Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia dan Mohammad Hatta sebagai wakil Presiden, mengesahkan UUD 145 sebagai konstitusi Negara Repblik Indonesia, KNIP sebagai parlemen darurat yang membantu tugas Presiden dan wakil Presiden merupakan upaya pembentukan pemerintahan Negara Republik Indonesia.
Pembentukan BKR dan lascar-laskar rakyat yang umumnya eks pasukan Peta, Heiho, Giyugun, Seinendan  merupakan bentuk pelembagaan militer kekuatan rakyat dan pemerintah Indonesia yang sudah dipersiapan yang sejak zaman Jepang  oleh para ulama dan tokoh pergerakan nasional.
BKR berperan dalam pendudukan berbagai kantor pemerintahan , pusat-pusat industry, perkebunan, dan tempat – tempat strategis, dan mendorong pemerintahan Republik Indonesia mengakar sampai kedaerah-daerah pedesaan sekaligus menghalangi pembentukan pemerintahan colonial Belanda.
Ketika kekuatan militer pemerintah colonial Belanda makin kuat dan tak terbendung, maka perang gerilya menjadi opsi yang dipilih karena paling efektif dan membuat perang jangka panjang yang membuat energy Belanda terkuras.  Strategi perang gerilya ini dirancang Jendral Sudirman sesuai perimbangan kekuatan dan memecah kekuatan pemerintah colonial Belanda dan membuat Belanda sulit mengetahui kekuatan militer bangsa Indonesia.
Disisi lain, pemerintah Republik Indonesia mengerahkan para diplomat Indonesia, masyarakat-masyarakat Indonesia, khususnya para pelajar dan mahasiswa Islam didaerah Timur Tengah atau yang berada diluar negeri untuk membangun komunikasi politik dengan para elit local di negara tempat mereka tinggal untuk  meminta dukungan politik bagi perjuangan politik bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dan meminta Negara-negara tersebut untuk mengakui kemerdekaan Indonesia.
Strategi pemerintah dan rakyat Indonesia ( terutama di Timur Tengah ) untuk memecah dan memblokade klaim pemerintah colonial Belanda bahwa masalah Indonesia adalah masalah dalam negeri Belanda , tetapi, masalah Indonesia adalah masalah bangsa yang sedang berjuang meraih kemerdekaannya dari penjajahan dan penindasan pemerintah colonial Belanda.
Diplomasi cerdas dari Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta, Muhammad Roem memperkuat kekuatan politik Indonesia diberbagai forum diplomasi Internasional dan membuat Belanda terdesak untuk mau tak mau mengakui eksistensi kemerdekaan Negara dan Bangsa Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949.

Sumber Pustaka :
1.      Deliar Noer.  Partai Islam dipentas Nasional 1945-1965. Jakarta: Grafiti Pers, 1987
2.      Ahmad Mansyur Suryanegara.  Api Sejarah 2.  Bandung: Salamadani Pustaka Semesta, 2010.

3.      Wilopo, S.H.  Zaman Pemerintahan Partai – Partai dan kelemahan-kelemahannya. Jakarta : yayasan Idayu, 1978

Thursday, December 1, 2016

Jakarta Tuntut Keadilan

Learning Indonesian history for all people
Hari ini tanggal 2 Desember 2016 kota Jakarta dipadati jutaan ummat Islam Indonesia, mereka dikonsentrasikan disekitar lapangan Monas, dekat Mesjid terbesar di Asia Tenggara, juga dekat dengan Istana Negara, untuk menuntut keadilan hukum terhadap Gubernur Jakarta, Basuki Cahya Purnama yang lebih dikenal Ahok karena telah menista  Al Qur'an, surat Al Baqarah  ayat 51.
Disamping itu, mereka menginginkan agar proses pengadilan terhadap Ahok berlangsung terbuka dan tidak diintervensi oleh pihak pendukungnya.  Massa aksi juga menunutut agar Ahok ditahan dan dipenjarakan seperti kasus-kasus penistaan agama lainnya.

Massa aksi berdatangan dari berbagai pelosok Indonesia.  Mereka tersinggung dengan ucapan Ahok terhadap Al Qur'an, yang dianggap menistakan agama Islam.  Walau Ahok menyatakan meminta maaf, tetapi massa menuntut hukum harus adil terhadap siapapun, dengan jabatan apapun, atau dari agama, suku atau Ras apapun.
Sumber : 
1. Republika.co.id