Kamis, 11 Februari 2010

Berdasarkan arti katanya, kata “sejarah” berasal dari bahasa Arab yaitu Syajaratun atau syajarah artinya pohon, keturunan, atau asal-usul kata ini kemudian diserap kedalam Bahasa Indonesia menjadi kata sejarah yang berate masa lampau. Kata sejarah dalam bahasa Indonesia sama pengertiannya dengan kata history dalam bahasa inggris artinya peristiwa masa lampau. Kata history sendiri berasal dari bahasa yunani kuno “istoria” yang berarti “belajar dengan cara bertanya-tanya”. Bagian terpenting dari kata istoria adalah belajar, ini berarti bahwa sejarah adalah ilmu pengetahuan yang memplajari peristiwa penting masa lalu. Sedangkan dalam bahasa jerman, sjarah berasal dari kata geschehen (geschicht) yang berarti sesuatu yang telah terjadi. Ahli sejarah Indonesia sendiri menrjemahkan sejarah sebagai :
1. Silsilah keluarga atau asal usul.
2. Peristiwa yang nyata pada masa lalu.
3. Riwayat.

Jadi, sejarah adalah suatu kegiatan atau tindakan manusia di masa lampau yang menimbulkan perubahan besar di masyarakat. Dan ilmu sejarah adalah ilmu yang mempelajari pristiwa penting pada masa lalu yang berhubungan dengan kehidupan manusia.

Sejarah sebagai Peristiwa
Sejarah sebagai suatu peristiwa artinya sejarah ditempatkan sebagai suatu fakta dari kejadian dan kenyataan yang benar-benar . Terjadi pada masa lampau.. Sejarah sebagai peristiwa berarti kita tempatkan peristiwa masa lalu tersebut sebagai suatu pakta yang benar-benar pernah terjadi pada masa lalu.sejarah sebagai peristiwa juga dapat kita jadikan sebagai dasar kita untuk mengakui dan merekonstruksi kembali kehidup manusia pada masa tersebut Peristiwa masa lalu memang sudah tidak bisa kita saksikan lagi secara langsung.

Sejarah sebagai Kisah


Sejarah sebagai kisah mempunyai arti bahwa kejadian masa lalu tersebut direkontruksi kembali melalui ingatan atau
penafsiran seseorang. Meskipun penafsiran seseorang tersebut berbeda-beda satu dengan yang lain. . sejarah sebagai kisah merupakan hasil cipta dan karya sejarawan setelah melalui proses penelitian sejarah yang didasarkan pada bukti-bukti yang ada, dapat dipertanggungjawabakan dan hasilnya mendekati kebenaran dan peristiwa masa lalu.. Sisa-sisa peninggalan masa lalu yang dibutuhkan dalam peyusunan sebuah kisah terkadang jumlahnya sangat terbatas dalam kondisi yang sangat rusak. Sisa peninggalan masa lalu yang berwujud benda atau artefak akan lebih sulit dijadikan sumber kisah dibandingkan yang berwujud prasasti (sumber tetulis). Jadi, dalam meyusun sebuah kisah sejarah, seorang sejarawan dituntut harus mengikuti metode analisis serta pendekatan-pendekatan tertentu sehingga hasil dari penelitian mereka benar-benar dipertanggungjawabkan.

2. Sejarah sebagai Ilmu

Dalam hal ini, sejarah sitempatkan sebagai pengetahuan tentang masa lampau yang disusun secara sistematis dan metode
pengkajian ilmiah untuk mendapatkan kebenaran mengenai peristiwa masa lampau. Kebenaran akan suatu peristiwa tersebut harus
dibutikan oleh suatu dokumen atau bukti sejarah yang telah diuji dengan sangat teleti dan cermat keasliannya atau keautentikan-
ya. Keaslian dari sumber sejarah memegang peranan sangat penting dalam sebuah peneletian sejarah, sebab kebenaran dari suatu
kisah sejarah ditentukan dari asli atau tidaknya sumber sejarah yang ditemukan.

Kebenaran dalam sejarah berarti sesuai dengan fakta-fakta yang ada pada zaman dahulu. Itulah sebabnya sejarah dimasukan
kedalam kategori sebuah ilmu, sebab sejarah memang memenuhi syarat-syarat keilmuan, antara lain:

a. Memiliki objek yang dijadikan permasalahan yaitu peristiwa masa lalu.
b. Melibatkan penggunaan metode-metode dalam melakukan analisis. Terutama yang menghubungkannya dengan bukti-bukti sejarah yang ada.
c. Disusun secara sistematis. Peyusunan kisah sejarah akan selalu mengingat pada suunan kronologis yang dimulai dari peristiwa paling awal.
d. Bersifat rasional. Peyusunan kisah sejarah akan selalu berpedoman pada penelitian sumber-sumber sejarah yang kemudian disusun secara rasional berdasarkan fakta yang ada. Sifat-sifat mitos, mistik, tahayul, dan hal-hal serupa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dihindari dalam peyusunan sebuah kisah sejarah.
e. Bersifat objektif. Kebenaran dalam peyusunan kisah sejarah haruslah benar-benar sesuai dengan sumber yang ada tidak boleh dilebih-lebihkan termasuk menambah-namabahi kisah yang tidak benar maupun mengurangi bagian-bagian tertentu sehingga kisah sejarah menjadi membinggungkan.

2. Sejarah sebagai Seni

Sejarah sebagai seni dalam hal ini sejarah dihubungkan dengan menulis kisah sejarah. Menurut G.M. Travelyan menulis kisah sejarah bukanlah hal yang mudah sebab menulis kisah sejarah merupakan sebuah seni, yang didalamnya juga mengandung unsure filsafat, polemik, dan propaganda. Dalam penulisan sebuah kisah sejarah diperlukan daya imajinasi sehingga mampu menjadikan fakta-fakta sejarah yang ada menjadi lebih hidup, berarti, dan memiliki daya tarik tersendiri sehingga orang tertarik untuk membaca dan mempelajarinya. Oleh sebab itu, menurut Travelyan dalam menulis kisah sejarah diperlikan kemampuan dalam menggunakan bahasa yang indah, komunikatif, menarik, dan isinya mudah dipahami. Dengan kata lain, diperlukan seni dalam menuis kisah-kisah sejarah sehingga seorang sejarawanpun haruslah memilki rasa seni yang tinggi dalam menyampaikan kisah-kisah sejarahnya melalui tulisan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.